Merawat Jagad Kecil

“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta”

Semoga semua mahluk berbahagia.

Tepat setahun yang lalu, sebuah ruang operasi yang putih bersih menjadi saksi bisu lahirnya “matahari” baru di hidup kami. Kata orang, ruang bersalin itu dinginnya bukan main, penuh darah, dan bukan tempat untuk semua orang—terutama bagi orang seperti saya yang tidak kuat dingin, apalagi betah melihat darah. Namun, rasa takut itu mendadak surut di hadapan Hani yang harus berjuang lebih besar.

Pagi itu, seminggu sebelum Idulfitri, kami berdua kompak berpuasa. Hani berpuasa karena prosedur medis, saya berpuasa karena memang sudah kewajiban. Menjelang detik-detik operasi Sectio Caesarea, kegelisahan terasa menebal di udara. Di luar ruangan, keluarga besar Hani menunggu dengan cemas; sementara jauh di provinsi yang berbeda, ibu dan bapak saya juga mengirimkan doa-doa yang sama gelisahnya.

Berbeda dengan ruang operasi di Grey’s Anatomy yang sering saya tonton, suasana aslinya justru begitu tenang. Dokter Sapto, obgyn yang sudah menemani kami sejak garis dua itu muncul, bahkan mempersilakan kami memutar lagu. Hani sudah menyiapkan playlist khusus: mulai dari gempuran pop-punk For Revenge hingga balada Iwan Fals.

For Revenge mengiringi Dokter Sapto melakukan pembedahan awal. Perut Hani disayat, tapi saya tidak tahu persisnya. Fokus saya hanya pada Hani, mencoba mengalihkan rasa paniknya dengan obrolan-obrolan remeh—mulai dari warna scrub dokter hingga mengakui dosa lama bahwa saya masih saja gagal menghapal password ponselnya.

Lagu “Galang Rambu Anarki” mulai berputar tepat ketika Dokter Sapto meminta suster menekan perut Hani. Tak berapa lama, seorang bayi kecil lahir dengan kulit putih dan rambut tipis yang masih berbekas darah. Suasana yang tadinya tenang berubah riuh oleh kehidupan baru. Saat saya diminta mengazani anak lelaki saya di dalam inkubator, ada rasa aneh yang hinggap. Di tengah kekakuan saya mengumandangkan azan, di dalam hati saya merapal sebuah harapan universal: Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta—semoga semua makhluk berbahagia, termasuk makhluk kecil yang baru saja menghirup udara dunia ini.


وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

“wa mâ arsalnâka illâ raḫmatal lil-‘âlamîn”

Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.

(Al-Anbiya: 107)

Jauh sebelum hari itu, saya dan Hani sudah sepakat untuk tidak menggunakan nama yang lazim. Kami ingin nama yang terasa “mengakar”. Maka, dimulailah perburuan kata di Kamus Jawa Kuna karya Zoetmulder. Hani menandai entri-entri menarik dengan pulpen, dan saya—dengan sedikit bekal akademis yang saya punya—mencoba menjahitnya menjadi satu pemaknaan filosofis.

Setelah berdiskusi panjang (termasuk berkonsultasi dengan sahabat kami, Effelina, seorang filolog yang tengah naik daun), kami akhirnya menyematkan nama: Nur Prasanna Angarsani Jagaddhitartha.

Nama ini adalah sebuah narasi tentang cahaya yang berdaulat. Nur menghubungkannya dengan elemen nama saya sekaligus penghormatan pada konsep Nur Muhammad dalam tradisi Tasawuf. Prasanna membawa sifat terang dan ramah, sementara Aṅarsani adalah sebuah kehendak yang membawa kegembiraan. Nama ini ditutup dengan Jagaddhitārtha, sebuah kata megah dari Kakawin Sutasoma yang bermakna “untuk kesejahteraan dunia”.

Jika digabungkan, Jagad bukan sekadar objek yang diterangi, melainkan subjek yang merdeka. Dia adalah cahaya fajar yang menyejukkan. Dalam Islam, adalah sunnah untuk memberikan nama Muhammad kepada anak laki-laki pertama. Tapi buat saya, penyertaan nama itu tidak harus bersifat letterlijk. Nama “Nur Prasanna Angarsani Jagaddhitartha”, bagi saya dan Hani, sudah mewakili nama Muhammad yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Kata “rahmat” (رحمة) sendiri, dapat dimaknai sebagai berkat ataupun kasih sayang yang meluap-luap. Tidak jauh berbeda dengan Aṅarsani Jagaddhitārtha.


“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”

(Matius 5:9)

Hari ini, bayi merah yang dulu saya sambut dengan canggung itu sudah genap berusia satu tahun. Agak aneh menyebutnya “bayi kecil” sekarang. Jagad sudah bertransformasi menjadi “Anak Gede”—begitu saya memanggilnya karena tingginya yang di atas rata-rata.

Dia sudah mulai memanjat jendela, menyikat gigi, bicara “mamamam” saat lapar, hingga merengek memilih buku yang ingin dia baca. Momen begadang dan drama ganti popok tengah malam kini menjadi fragmen kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Jagad selalu senang ketika diajak menyapa budhe-budhenya di sekitar rumah. Saat menemui buyut, yang masih begitu bugar untuk menggendongnya, Jagad juga begitu bahagia. Apalagi ketika buyutnya itu mengajak Jagad mengejar ayam. Saya melihat Anak Gede itu sudah mampu memanifestasikan arti namanya, dia telah menjadi sosok pembawa kedamaian dan kebahagiaan buat banyak orang.

Jagad tumbuh dikelilingi kasih sayang yang melimpah. Di ulang tahun pertamanya ini, doa kami sederhana: Teruslah tumbuh, Jagad. Jadilah cahaya yang menjernihkan, bukan yang menyilaukan. Jadilah pembawa damai sebagaimana namamu dijahit di antara lembar kamus kuno dan doa-doa kami.

Cepatlah besar matahariku,
Menangis yang keras janganlah ragu,
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku,
Doa kami di nadimu.

Selamat ulang tahun, Jagad kecil kami.

🙠

Profil Blog Portofolio